Kamis, 14 Maret 2019

Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi



Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi
 Siti Nuryani1, R.Fx.Saptono Putro2, Darwani3
1,2Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Analis Kesehatan
3 Balai Laboratorium Kesehatan DIY

Pembahasan:
Kandidiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Candida albicans, selain dapat menyerang permukaan tubuh seperti kulit tetapi juga dapat menjadi masalah pada rongga mulut. Selain jamur diatas, dalam rongga mulut ditemukan bakteri yang dapat menyebabkan terbentuknya biofilm atau plak serta infeksi. Salah satu bakteri itu adalah Staphylococcus aureus.
Maka upaya pencegahan dengan membunuh atau mengurangi jumlah bakteri dan jamur dalam rongga mulut perlu dilakukan. Salah satunya obat kumur yang dipakai hendaknya mempunyai efek samping yang sangat sedikit sehingga tidak membahayakan pemakainya, seperti rekomendasi WHO (World Health Organization). Obat tradisional adalah suatu ramuan atau bahan yang telah digunakan untuk pengobatan, yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sedian sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut. Obat tradisional yang berasal dari tumbuhan menggunakan bagian-bagian tumbuhan seperti akar, rimpang, batang, buah, daun atau bunga.
Tanaman jambu biji (Psidium guajava Linn) ditemukan di seluruh kawasan Indonesia serat daunnya mengandung sejenis senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri dan antijamur. Kandungan tersebut adalah senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat. Penelitian Claus dan Tyler, tanin mempunyai daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan bakteri atau jamur. Manfaat daun jambu biji (Psidium guajava L.) dibuktikan dapat mempercepat penyembuhan infeksi pada kulit yang biasanya di sebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus spp, Escherichia coli, Salmonella typhi, Proteus mirabilis, dan Shigella dysenteria. Ekstrak daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi memakai larutan etanol. Yaitu dengan mengekstraksi tanaman jambu biji tersebut dibuat menjadi 3 konsentrasi yaitu 25%, 50% dan 75%. Masing-masing konsentrasi dilakukan uji daya hambat dengan cara mengetahui diameter hambatan pertumbuhan terhadap Candida albicans dan Staphylococcus aureus. Tiap konsentrasi dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali, sehingga menghasilkan 15 data.
Data di analisis secara jelas dan rinci untuk menggambarkan perbandingan potensinya dengan bahan klorheksidin sebagai bahan standar. Ekstrak daun jambu biji menggunakan etanol 70 %, karena menurut penelitian Erfan Yudapraja (2012) kadar etanol 70 % menarik tanin (kumpulan senyawa organik amorf) lebih banyak dan merupakan konsentrasi optimal untuk menghasilkan yield atau pertumbuhan bakteri tersebut.
Berdasarkan uraian diatas tujuan pengujian ekstrak daun jambu biji yaitu untuk mengetahui kegunaan sebagai antiseptik terhadap mikroorganisme bakteri dan jamur. Dan pada uji laboratorium menghasilkan rata-rata diameter zona hambat sebagai berikut: untuk jamur C.albicans dengan ekstrak 25%, 50% dan 75% adalah 13.4mm, 17.6mm dan 19.4mm. Sedangkan untuk S. aureus adalah 2.2mm, 25.6mm, dan 27.2mm. Sehingga didapatkan pengaruh daya antifungi (antijamur) dari ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans lebih kecil di banding terhadap bakteri Staphylococcus aureus. (Nuryani, 2017)
Perlu diteliti konsentrasi yang tepat untuk membuat obat kumur, kemudian dicobakan langsung terhadap responden, dengan mengukur jumlah jamur dan bakteri sebelum dan sesudah berkumur.

Sumber :
Nuryani, S. (2017). Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi. Jurnal Teknologi Laboratorium, 6(2), 41. https://doi.org/10.29238/teknolabjournal.v6i2.95



Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi

Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji ( Psidium guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi   Siti Nuryani 1 , R.Fx.Saptono Putro 2 ...