Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium
guajava Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi
Siti Nuryani1, R.Fx.Saptono
Putro2, Darwani3
1,2Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan
Analis Kesehatan
3 Balai
Laboratorium Kesehatan DIY
Pembahasan:
Kandidiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh
jamur Candida albicans, selain dapat menyerang permukaan tubuh seperti
kulit tetapi juga dapat menjadi masalah pada rongga mulut. Selain jamur diatas,
dalam rongga mulut ditemukan bakteri yang dapat menyebabkan terbentuknya
biofilm atau plak serta infeksi. Salah satu bakteri itu adalah Staphylococcus
aureus.
Maka upaya pencegahan dengan membunuh atau
mengurangi jumlah bakteri dan jamur dalam rongga mulut perlu dilakukan. Salah satunya
obat kumur yang dipakai hendaknya mempunyai efek samping yang sangat sedikit
sehingga tidak membahayakan pemakainya, seperti rekomendasi WHO (World Health Organization). Obat
tradisional adalah suatu ramuan atau bahan yang telah digunakan untuk
pengobatan, yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sedian sarian (galenik)
atau campuran dari bahan tersebut. Obat tradisional yang berasal dari tumbuhan
menggunakan bagian-bagian tumbuhan seperti akar, rimpang, batang, buah, daun
atau bunga.
Tanaman jambu biji (Psidium guajava Linn)
ditemukan di seluruh kawasan Indonesia serat daunnya mengandung sejenis senyawa
yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri dan antijamur. Kandungan tersebut
adalah senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat. Penelitian
Claus dan Tyler, tanin mempunyai daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang
disebabkan bakteri atau jamur. Manfaat daun jambu biji (Psidium guajava L.)
dibuktikan dapat mempercepat penyembuhan infeksi pada kulit yang biasanya di
sebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus spp, Escherichia
coli, Salmonella typhi, Proteus mirabilis, dan Shigella dysenteria. Ekstrak
daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi memakai larutan etanol. Yaitu dengan
mengekstraksi tanaman jambu biji tersebut dibuat menjadi 3 konsentrasi yaitu
25%, 50% dan 75%. Masing-masing konsentrasi dilakukan uji daya hambat dengan
cara mengetahui diameter hambatan pertumbuhan terhadap Candida albicans dan
Staphylococcus aureus. Tiap konsentrasi dilakukan pengulangan sebanyak 5
kali, sehingga menghasilkan 15 data.
Data di analisis secara jelas dan rinci untuk
menggambarkan perbandingan potensinya dengan bahan klorheksidin sebagai bahan
standar. Ekstrak daun jambu biji menggunakan etanol 70 %, karena menurut
penelitian Erfan Yudapraja (2012) kadar etanol 70 % menarik tanin (kumpulan senyawa
organik amorf) lebih banyak dan merupakan konsentrasi optimal untuk
menghasilkan yield atau
pertumbuhan bakteri tersebut.
Berdasarkan uraian diatas tujuan pengujian ekstrak
daun jambu biji yaitu untuk mengetahui kegunaan sebagai antiseptik terhadap
mikroorganisme bakteri dan jamur. Dan pada uji laboratorium menghasilkan
rata-rata diameter zona hambat sebagai berikut: untuk jamur C.albicans dengan
ekstrak 25%, 50% dan 75% adalah 13.4mm, 17.6mm dan 19.4mm. Sedangkan untuk S.
aureus adalah 2.2mm, 25.6mm, dan 27.2mm. Sehingga didapatkan pengaruh daya
antifungi (antijamur) dari ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.)
terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans lebih kecil di banding
terhadap bakteri Staphylococcus aureus. (Nuryani,
2017)
Perlu diteliti
konsentrasi yang tepat untuk membuat obat kumur, kemudian dicobakan langsung
terhadap responden, dengan mengukur jumlah jamur dan bakteri sebelum dan
sesudah berkumur.
Sumber :
Nuryani, S. (2017). Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava
Linn) Sebagai Antibakteri dan Antifungi. Jurnal Teknologi Laboratorium, 6(2),
41. https://doi.org/10.29238/teknolabjournal.v6i2.95
Tidak ada komentar:
Posting Komentar